Masalah Lingkungan Ancaman Makassar Kota Dunia
Sorotan paling utama warga Kota Makassar saat ini pada masalah lingkungan kota. Mayoritas warga pada umumnya tidak puas dan mendesak wali kota segera menangani dan membenahi permasalahan lingkungan kota yang sangat krusial.
Keluhan warga umumnya pada kebersihan kota yang tidak ditangani dengan baik. Hampir setiap sudut kota, sampah bertebaran di mana-mana. Kondisi ini pulalah yang menyebabkan Makassar lagi-lagi gagal meraih Piala Adipura.
Pengangkutan sampah yang tidak rutin dan keterbatasan tempat penampungan sementara menjadi salah satu biang tidak selesainya masalah sampah di Makassar. Kebiasaan masyarakat hidup tidak bersih juga memicu sampah yang dibuang di sembarang tempat, sehingga wajah kota menjadi jorok.
Survei yang dirilis lembaga survei Celebes Research Centre (CRC) mengungkap keluhan warga paling mendesak segera ditangani terkait lingkungan kota. Sekira 57,4 persen penduduk Makassar mendesak wali kota segera menangani masalah dasar kehidupan perkotaan tersebut.
Perhatian utama warga pada masalah lingkungan adalah kebersihannya. Sebanyak 17,8 persen menginginkan pemkot segera menangani masalah ini.
Selain itu, warga juga meminta wali kota lebih serius memperhatikan dan mengurangi kemacetan lalu lintas yang kian parah. Sebanyak 14,1 persen penduduk menuntut perhatian pada kemacetan yang sudah menimbulkan kerugian.
Selebihnya, meminta perhatian pada masalah jalan (12,6 persen), banjir (6,4 persen), air bersih (5 persen), dan tata kota 1,5 persen.
Warga Makassar pantas menuntut perhatian lebih pemerintah pada masalah lingkungan kota. Haerul Amri, warga perumahan Bumi Tamalanrea Permain, Kecamatan Tamalanrea mengatakan, visi Makassar Kota Dunia harus dibarengi perbaikan pelayanan terutama kebersihan.
“Bagaimana Makassar bisa menjadi kota dunia bila sampah, kemacetan, dan pelayanan dasar kebutuhan masyarakat belum terpenuhi. Harusnya ada grand desain yang diterapkan bertahap bila tidak mampu secara total, untuk membuktikan dan merealisasikan visi itu,” katanya.
Masalah sampah dan kebersihan kota ini mirip perdebatan peciptaan ayam dan telur. Di satu sisi sampah dinilai tidak akan tuntas bila warga masih membuang limbahnya sembarangan. Namun, warga juga berdalih tidak akan membuang sampah sembarangan bila terangkut rutin.
Pakar tata ruang dan perkotaan, Danny Pomanto mengemukakan, sampah salah satu dari tiga masalah utama yang dihadapi Makassar selain kemacetan dan pedagang kaki lima. Ketiganya harus lebih serius ditangani bila ingin mewujudkan visi Makassar kota dunia.
Danny mengatakan, ketiga masalah bisa ditangani, utamanya persampahan bila pemerintah melibatkan masyarakat secara masif dalam pengelolaan lingkungan. Pemkot bisa mencontoh gerakan yang dilakukan Pemerintah Singapura dengan konsep Solidarity of Nation.
“Sulit berharap sampah ditangani maksimal dengan jumlah petugas kebersihan yang ada hanya 300 orang. Tidak seimbang dengan penghasil sampahnya. Semestinya bisa seimbang, dengan cara semua warga bisa ikut bertanggung jawab dengan sampah di sekitarnya,” tutur Danny.
Responsibilitas dan partisipasi masyarakat, kata Danny, harus dibiasakan. “Masyarakat harus dilibatkan mengatasi masalah perkotaan dengan cara memberdayakan organisasi tingkat RT dan RW.
Danny juga mengusulkan pelibatan swasta untuk mengelola penataan dan kebersihan kawasan. Swasta bisa memperoleh pendapatan dari pengelolaan lingkungan termasuk sampah, sekaligus sudah bersih dan menyumbang pendapatan asli daerah.
salikun:
January 15th, 2012 at 3:09 PM
saran aja bila berkenan cara untuk mengatasi persoalan sampah(buka)teknologi pemusnah sampah,cara atasi sampah yg.tidak pernah gagal.
salikun:
March 2nd, 2012 at 6:35 AM
Sy.berkomentar tapi mhn.maaf sebelumnya kalo ada pihak yg.tdk berkenan,persoalan sampah itu sebenarnya mudah dan bahkan sangat mudah skali diatasi,bila berkenan(buka)teknologi pemusnah sampah.Trima kasih.