Memasuki Ramadan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sulsel menjamin stok daging di daerah ini aman. Stok daging lokal masih mencukupi.
“Tak masalah, mekanisme pasar setiap tahun seperti itu. Yang mesti diantisipasi hanya lonjakan harga. Jelang lebaran permintaan daging naik dan ikut memengaruhi harga. Tapi itu biasaya. Ini mekanisme pasra. Kita hanya perlu mengatur mekanismenya,” kata Andi Murtala Ali, Kamis 7 Juli.
Untuk mengantisipasi gejolak harga, disnak sudah menyiapkan 500 ekor dari PT Buli Sidrap dengan bobot 200-300 kilogram. Selain itu masih dapat ditutupi oleh suplai ternak dari daerah tetangga seperti Kalimantan dan Nusa
Tenggara Barat.
Bulan puasa, kata Murtala, konsumsi daging relatif kecil. Rumah makan dan sejumlah warung baru beroperasi pada malam hari. Jadi tidak perlu khawatir.
Sementara itu, Direktur Utama Perusda RPH Makassar Sudirman Lannung mengungkapkan, jumlah ternak di Makassar yang dipotong per hari sekitar 200-500 ekor. Sementara distribusi daerah tetangga yang datang berkisar 50-100 ekor.
Dengan stok daging mencapai 600 ekor sapi per hari itu, sudah cukup untuk konsumsi lokal. Nah, mengantisipasi ramadhan dan lebaran, RPH Makassar mengaku tidak terganggu dengan tingginya permintaan daging. “Sudah biasalah kita ansitisipasi. Itu mekanisme tahunan saja,” ungkapnya.
Harga daging sapi untuk daging sapi segar rata-rata dijual Rp60-70 ribu per kilogram, sedangkan daging yang bercampur tulang dijual Rp35 ribu per kilogram.
Pedagang dan peternak di Sulsel mengandalkan daging sapi lokal dibanding konsumsi daging sapi impor. Berdasarkan data terakhir jumlah populasi sapi di Sulsel mencapai 946 ribu ekor lebih yang terus mengalami peningkatan.
Bahkan pertumbuhan sapi tahun 2011 lalu mencapai 15 persen lebih sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi lokal juga dapat didistribusikan ke daerah lainnya.
Seorang Birokrat Yang Sibuk Mengajar
Calon Ketum HDCI Di Hotel Grand Clarion